Perjuangan Masuk Universitas
oleh : Faza Tamyiz
Setiap orang pasti akan diuji dalam hidupnya. Manusia yang lahir di dunia ini pasti akan mendapat berbagai masalah. Akan tetapi itu sudah menjadi kodrat manusia. Ada hukum alam yang mengatakan bahwa HIDUP = MASALAH. Hukum ini dapat diperinci menjadi : hidup adalah masalah, tidak ingin masalah berarti ingin mati, tak siap hidup maka mati saja.
Aku tak begitu pandai bercerita namun izinkan aku menceritakan secuil kisahku untuk kalian yang masih berada dalam zona perjuangan. Zona ini memang kadang terasa berat, mungkin secuil ceritaku ini akan dapat membantumu. Akan tetapi, perlu diingat bahwa setiap orang memiliki alur ceitanya masing-masing. Terserah padamu kau akan menuliskan apa pada novel kehidupanmu. Oke, langsung saja aku mulai certanya...
SMA
Aku adalah seorang siswa dari sebuah sekolah unggulan di Magelang. Adalah sebuah keberuntungan aku bisa masuk ke sana. Sistem seleksi agar dapat masuk ke SMA-ku adalah dengan Nilai Ujian Nasinal. Beruntung aku mendapat nilai ujian nasional yang lumayan bagus. Aku beruntung apa yang aku pelajari keluar di soal ujian nasional.
Saat masih kelas 3 SMP, pak guru pernah bertanya kepada aku dan teman-temanku. "Mau melanjutkan sekolah di mana?". Kebanyakan dari temanku sudah memiliki jawabannya. Saat tiba giliranku, aku menjawab "Belum tahu e pak". Pak guru dan teman-temanku menertawaiku. Tapi, sesungguhnya aku memang belum tahu mau melanjutkan sekolah di mana. Aku kemudian berinisiatif meniru teman-temanku. Aku kemudian menyebutkan nama SMA yang paling banyak disebut oleh teman-temanku. Walaupun aku belum pernah tahu SMA mana itu.
Ternyata benar apa yang aku katakan. Setelah kelulusan, aku mendaftar di SMA itu. Itu adalah hari perama aku datang ke SMA itu. Aku lantas diterima di SMA itu. Bahkan menduduki peringkat atas. Aku beruntung. Mungkin keberuntungan ini bisa saja menjadi sebuah berkah dan mungkin juga sebuah awal dari hal buruk.
Ternyata benar, aku terlalu bersantai di SMA sehingga nilaiku menurun secara drastis. Aku bahkan kesulitan mengikuti pelajaran. Aku juga kesusahan dalam mengerjakan soal. Akibatnya, nilaiku turun dan sebagian jelek, khususnya di mata pelajaran peminatan (IPA dan Matematika). Hal ini membuatku sering dimarahi oleh orang tuaku. Tentu saja kadang aku agak tertekan di rumah maupun di sekolah.
Kelas 1 dan 2 aku masih bersantai-santai. Aku masih kurang bisa memanfaatkan waktu luangku dengan baik. Aku merasa bahwa masuk SNMPTN tidaklah mungkin bagiku. Jadi aku menargetkan SBMPTN. Aku masih saja santai dalam pelajaran. Dalam hatiku, aku bertekad bahwa ketika aku sudah kelas 3 aku akan serius dalam belajar SBMPTN dan pelajaran sekolah.
Kenyataannya, saat kelas 3 aku masih saja kesulitan dalam memahami materi yang diajarkan. Seperti kita ketahui bahwa apabila pondasi bangunan tidak kokoh maka bangunan tersebut akan mudah rubuh. Hal ini terjadi padaku. Pelajaran yang diajarkan di kelas 1 dan 2 menjadi pondasi dan dasar bagi pembelajaran di kelas 12. Aku yang kurang memahami materi merasa kurang bisa mengikui pembelajaran.
Secara mendasar

